Pemeriksaan PET Ammonia

Pengertian Penyakit Jantung Iskemik

Penyakit jantung iskemik mengacu kepada keadaan di mana aliran darah yang tertuju ke jantung tidak mengalir dengan volume yang cukup. Pembuluh darah koroner, yang fungsinya adalah mengantarkan darah dan menyuplai oksigen dan nutrisi ke otot jantung, menjadi sempit akibat terjadinya arteriosklerosis yang membuat pembuluh darah menjadi keras, dan darah tidak dapat mengalir lancar ke otot jantung. Pada saat seperti ini, jantung berada pada kondisi kekurangan oksigen (iskemia) dan kemudian muncul gejala berupa sakit pada dada, dan gejala lainnya. Di Indonesia, penyakit ini berada pada peringkat ke-3 sebagai penyebab kematian tertinggi, setelah stroke dan kanker.

Mengenai Jenis-Jenis Pemeriksaan Jantung

Terdapat jenis pemeriksaan yang berbeda-beda sesuai dengan jenis penyakit jantung yang diduga sedang diderita pasien, tetapi pada pemeriksaan jantung, selain dengan metode sederhana seperti pemeriksaan darah dan Elektrokardiogram (EKG), yang umumnya dilakukan adalah pemeriksaan kateter jantung, CT, MRI, dan gelombang ultrasonik. Namun di Kaikoukai Group tepat nya di Nagoya Radiological Diagnosis Foundation, selain dengan metode-metode pemeriksaan di atas, terdapat juga pemeriksaan PET Ammonia yang dapat memeriksa dan mengetahui dengan cepat tentang kondisi aliran dan pergerakan darah ke jantung, yang membuat Nagoya Radiological Diagnosis Foundation menjadi salah satu fasilitas pemeriksaan terbaik di Jepang.

Mengenai Pemeriksaan PET Ammonia

Pemeriksaan ini dilakukan dengan memeriksa aliran darah dan gerakan jantung, dan mendiagnosis ada atau tidaknya penyakit jantung iskemik (angina pektoris, infark myokardial, dll), dan bila ada, menentukan seberapa parah tingkatannya. Pemeriksaan ini berguna untuk memberikan saran perencanaan pengobatan pasien, atau menentukan perlu/tidaknya pasien tersebut dirawat inap.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menyuntikkan obat khusus (13NH3: Ammonia) yang telah diberikan marking menggunakan radioisotop yang mengeluarkan radiasi. Obat ini akan mengikuti aliran darah dan pada akhirnya terkumpul di jantung. Kemudian, dengan memeriksa kondisi terkumpulnya obat dengan menggunakan alat khusus bernama PET-CT, maka dapat diketahui kondisi jantung sesungguhnya.

Untuk volume radiasi yang dipaparkan ke tubuh pasien, besarannya kurang lebih sama dengan yang digunakan di pemeriksaan X-Ray pada lambung dan tulang, sedangkan volume radiasi yang berada di dalam tubuh akan berkurang dalam waktu singkat (berkurang sampai setengahnya dalam waktu sekitar 10 menit), lalu pada akhirnya akan menghilang.

Seperti layaknya pemeriksaan CT pada pembuluh darah koroner jantung, pemeriksaan ini tidak memerlukan adanya penggunaan contrast agent, sehingga membebaskan pasien dari resiko alergi dan kerusakan ginjal. Selain itu, keunggulan lainnya adalah pemeriksaan ini dapat dilakukan berkelanjutan pada periode rest/stress jantung.

Contoh Kasus Medis

November 2016

Februari 2017 MFR:2.40

Februari 2018

Pasien laki-laki usia 76 tahun dengan riwayat pengobatan pembuluh darah koroner sebanyak beberapa kali. Setelah dilakukan pemeriksaan medis dengan cara kateter jantung, dipastikan adanya penyempitan pada pembuluh darah. Terdapat pula rasa tidak nyaman pada area dada.
Kemudian dilakukan pemeriksaan PET Ammonia dengan tujuan untuk mengkonfirmasi kondisi pasien. Hasilnya adalah tidak ditemukan adanya iskemia (negatif iskemia). Setelahnya, dikarenakan gejala pada area dada tersebut mereda, maka pemeriksaan hanya dilakukan sebatas konfirmasi saja.
Setahun kemudian, rasa tidak nyaman pada area dada muncul kembali, dan dilakukan pemeriksaan kateter jantung. Seperti sebelumnya, tidak ada perubahan pada kondisi penyempitan pembuluh darah.
Atas permintaan dari pasien sendiri, maka direncanakanlah tindakan Intervensi Koroner Primer (PCI/Percutaneous Coronary Intervention). Myocardial Flow Reserve (MFR) dipertahankan di atas 2, yaitu pada 2,40.

Prestasi Nagoya PET Imaging Center

Sampai dengan April 2018, pemeriksaan PET Ammonia telah diterapkan pada lebih dari 2.000 kasus medis. Pemeriksaan ini merupakan metode yang sangat aman, dan sekalipun tidak ditemukan adanya komplikasi penyakit akibat pemeriksaan ini.